Manfaat kebangkitan nasional buat masa sekarang
Pertanyaan
1 Jawaban
-
1. Jawaban girito
Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei harus menjadi pendorong kemajuan pendidikan nasional. Raihan Iskandar, Anggota Komisi X DPR, mengatakan bahwa sejarah lahirnya kebangkitan nasional pada 1908 disebabkan oleh munculnya kaum terpelajar. Tokoh-tokoh penggerak organisasi-organisasi modern pada masa itu, lahir dari dunia pendidikan, seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo, Ir. Soekarno, KH. Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, dan sebagainya. (kompas.com, 2012)
Bercermin dari sejarah lahirnya kebangkitan nasional Indonesia, seperti dilansir metrotvnews.com (2014), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa pendidikan merupakan faktor utama yang mendukung kebangkitan Indonesia. Proses pembangunan di Indonesia tidak akan berjalan tanpa sumber daya manusia yang cakap dan terdidik, meskipun Indonesia memiliki kekayaan alam yang besar, kata Jokowi. "Jadi kalau saya ditanya apa paling penting, pasti pendidikan," tambah Jokowi.
Senada dengan Jokowi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan,melalui sambutannya dalam puncak Hari Guru Nasional 2014 (beritasatu.com, 2014), mengatakan bahwa Kebangkitan itu dimulai dari ruang kelas. Beberapa negara, seperti Kanada dan Jepang, juga sudah membuktikan bahwa kemajuan bangsa itu dimulai dari sekolah-sekolah.
Anies juga menekankan pentingnya peran guru dalam proses ini yang relevan dengan pembelajaran dari Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Ki Hadjar menyampaikan pentingnya peran guru untuk kebangkitan pendidikan melalui semboyan Patrap Triloka yang berbunyi, “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Semboyan tersebut mengandung makna, di depan, seorang guru harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik; di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide; dan dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan (wikiquote.org).
Upar Suparman, seorang guru yang mengabdikan dirinya di lereng Gunung Halimun, Sukabumi, tepatnya di SDN Ciptagelar, bisa disebut sebagai salah satu perwujudan Patrap Triloka tersebut. Pasalnya, Upar sudah menjadi ing ngarsa sung tuladha atas semangatnya dalam mengabdikan diri dalam pendidikan.
Dikutip dari metronews.com (2015), Upar juga sudah menjadi ing madya mangun karsa dengan upayanya berkeliling kampung untuk membujuk dan memberi semangat anak-anak di sana untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal tersebut dikarenakan di sana pendidikan masih dikesampingkan. Di antara siswanya yang sudah lulus SD banyak yang tidak melanjutkan ke tingkat SMP. Mereka memilih untuk bekerja membantu orangtuanya. Jadi, sudah menjadi kewajiban Upar sebagai guru untuk mendorong siswa-siswanya sehingga mereka dapat menyongsong masa depan yang lebih cerah.
Kebangkitan pendidikan Indonesia saat ini dan di masa yang akan datang, tidak akan lepas dari perjuangan para pelopor kebangkitan nasional di masa lalu. Maka dari itu, seperti kata Ir. Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya,” kita harus senantiasa menengok dan melanjutkan apa yang sudah para tokoh berikan untuk kebangkitan Indonesia untuk memperbaiki masa depan bangsa menuju Indonesia yang lebih maju.